June 2011
7 posts
Ada kalanya cara mencinta yang paling sempurna adalah diam-diam saja.
Kita sama-sama punya airmata. Hanya saja, aku yang terlalu rapi menyembunyikannya.
Aku harus terpejam beberapa waktu yang tak tentu; belajar tak mengingatmu.
Agaknya aku terlalu letih, terlampau sering menunggu yang tak pasti berarti.
Agaknya aku terlampau kelelahan, keseringan mengejar bayangan diri sendiri dari kejauhan.
Pernah aku terburu-buru menjatuhkan hati, setelahnya malah aku kesakitan sendiri.
Pernah aku terlalu dini melarikan diri, padahal ada hati yang semestinya turut kubawa pergi.
Perlu kau tahu, aku bukannya terlalu rela menunggu. Hanya saja aku tak ingin terburu-buru.
Perlu kau tahu, rindu yang hambur tak tahu malu ini sesungguhnya tak kutujukan padamu. Kesalahan angin yang membawanya padamu.
Berhentilah berlari, sedari tadi aku telah bersiap di tempat kita jumpa pertama kali.
Aku berkesempatan menghela panjang napas, titik kesadaran mengikhlaskan yang telah terlepas.
Jika kau tak mampu membuatku tertawa, setidaknya jangan buat aku menangis.
Jatuh di tempat berbeda, tapi sakitnya nggak jauh beda. Recoverynya pun tetep aja lama.
Hubungan yang energi positifnya kuat itu saling mendukung untuk berkembang, bukan saling adu kuat untuk mengekang.
Ada kalanya amat sangat tak perlu memelihara luka lama-lama, mudahnya pastikan saja kamu pura-pura lupa.
Hati pun bisa letih, bisa merasa perih, bahkan sesekali merintih. Dengarkanlah ia sebaik-baiknya.
Rasa yang sama memang kita punya, yang beda itu penyampaiannya. Dan aku, sengaja memilih tuk menyembunyikannya serapi yang kubisa.
Kata rindu untukmu masih terikat kuat di kerongkongan, belum siap diloloskan mulut ini dalam pernyataan.
” —@andayanihAku,
Satu nama yang tak sempat kau sebut utuh
Satu nama yang hanya kau ingat saat kau butuh
Selebihnya hanya alpa yang kau jadikan alasan saat menjauh
Perlu kau tahu,
Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku selalu menunggumu dengan setiaku
Tak perlu terbebani dengan kesendirianku yang lama selepas kamu
Aku hanya memberikan jeda pada rasa untuk berkembang sepertia sedia kala,
sebelum mengenal luka
Hati ini hanya sedang aku berikan waktu bermain yang lebih,
sebelum nantinya akan bekerja sepanjang masa mencintai yang halal bagiku
Namun begitu,
Ingatkanlah lagi pada hatimu,
bahwa sejak dulu namamu tak pernah terlewat dengan sengaja dari setiap baris doa yang kuhimpun
Berbahagialah selalu, karena disitu pun letak bahagiaku
Aku memang hanya sebuah nama yang kerap kau lupa,
yang selalu turut tersenyum kala bahagiamu tercipta.
Kau tau satu-satunya alasan Tuhan memisahkan kita? Sebab kita terlalu dekat, melampaui yang seharusnya.
Kau tau alasan Tuhan mencipta jarak antara kita? Sebab Tuhan ingin kita saling mendoakan, dalam jauhnya pandangan sekalipun.
Kau tahu alasan munculnya kantuk pada mata? Untuk membiarkannya terpejam, beristirahat dari memandangmu dalam nyata.
Sesekali aku hanya ingin bicara. Sekedarnya saja, tidak lama. Setidaknya sapalah aku ketika kita bertemu mata.
Di balik telapak tangan ini, sebuah nama terukir indah. Belum dapat kubaca, kata Tuhan masih rahasia.
” —@andayanihJika kau memutuskan mundur teratur, tetap akan ada kemungkinan untuk terbentur. Tetap hati-hati, Brur.
Selepas perpisahan, nyatanya ada hal besar yang kau kembalikan. Bukan kesendirian, tapi kemerdekaan. Kebebasan menentukan pilihan.
Sebelum tunainya perpisahan, ada hal besar yang kau titipkan, kepercayaan. Sayangnya, kau sendiri yang hancurkan.
Perpisahan kadang disayangkan. Yang sayang kadang dipisahkan.
” —@andayanihKau tahu, rasa untukmu sudah lama aku kemasi rapi. Kusisipkan di kantong kemeja, sebab tempatmu selalu dekat hati.
Tak mengenal jemu, bibir ini kerap berharap, kaulah yang membuat hati ini genap.
Merindukanmu (lagi); entah mengapa dan untuk apa.
Aku memang tak pernah menahanmu ‘tuk tetap tinggal. Namun namamu dalam doaku tak pernah sekalipun tertinggal.
Merindukanmu lagi; sepagi ini, sesering ini.
Selangkah lagi aku menujumu. Namun kabut menghablur tebal abu-abu. Kuputuskan memutar laju.
Yang kamu ingat, bisa saja terlupa. Yang kamu rasa, semoga saja selalu sama. :))
” —@andayanih